narcitsa:

THE HORROR
when your crush greet you
And you are not ready

(Source: doctaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa)

5054 Notes

Show us how to seek you.

We were made to see you.

(Source: hitolonen)

1264 Notes

aseaofquotes:

Jonathan Tropper, Plan B

aseaofquotes:

Jonathan Tropper, Plan B

3827 Notes

waktu

windy-ariestanty:

semalam, seorang sahabat bermain ke kandang. kami menonton revenge dan scandal di televisi kabel. di tengah-tengah keasyikan kami menonton, ia bertanya, ‘apa yang bisa membuat lo mempertahankan seseorang. hm, pacar lo katakanlah.’

layar televisi sedang menayangkan olivia pope yang bertengkar dengan presiden AS, yang juga merupakan kekasihnya. olivia pope adalah kekasih gelap sang presiden. saya sebut gelap karena mereka tak bisa terang-terangan memberi tahu bahwa mereka memiliki hubungan. pertama, pacarnya adalah presiden AS, kedua lelaki yang menjadi orang nomor satu AS itu telah beristri.

Read More

68 Notes

Merangkai Kata

Mereka bilang alam tak sanggup merangkai kata
Seperti pohon yang memutuskan untuk bergeming tak bersuara
Tak peduli disengat terik matahari,
atau diterpa embusan angin
Tak tertarik bermain dengan burung-burung yang berkicau bertengger,
atau sekedar menyapa lembut ilalang sekitar

Mereka bilang alam tak sanggup merangkai kata
Seperti angin yang berlalu,
Tak sempat untuk berhenti sejenak dan bercengkerama
Tak berpikir untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri

Mereka bilang alam tak sanggup merangkai kata
Seperti matahari yang lancang,
tak merasa berdosa atas bulir-bulir keringat yang bersimbah di sekujur tubuh
Atau seperti ombak yang sedang gusar,
yang mengempaskan dirimu ke karang, menolak untuk dirangkul


Tetapi,
Kamu bilang,
Tak ada yang lebih pintar merangkai kata daripada alam

Tak ada yang lebih ramah dari burung-burung di pagi hari,
yang tak sungkan menyapamu riang,
seraya menyenandungkan merdu selarik dua larik lagu

Tak ada yang lebih hangat dari sinar matahari,
yang menyusup malu-malu di antara ranting dan dedaunan,
yang berpendar ringan di antara jari-jari tanganmu yang bermain riang

Tak ada yang lebih lembut dari pasir yang basah dibalur ombak,
yang menyelimuti kakimu sembari menggelitik sela-sela jarimu,
membuatmu tertawa terkikik

Dan tak ada yang lebih syahdu dari gulungan ombak di tepi pantai,
yang tak sungkan memeluk hangat tungkai kakimu,
berhasil menorehkan senyum damai di wajahmu


Dirimu berdansa di bawah siraman sinar matahari,
disertai iringan deburan ombak,
bergerak gemulai di atas panggung pasirmu

Angin pun turut berdansa dan berkelok mengikuti iramamu,
Dan burung-burung ikut berkicau senang menyertai tarianmu

Lambat laun kamu melebur,
Ikut berdebur,
Lalu bersinar

Anggun…

Tak ada yang lebih pintar merangkai kata daripada alam,
Aku berbisik

(Wacana visualisasi puisi)

lost in translation

(Source: keptyn, via fimbul-vinter)

6527 Notes

zubrowkafilmcommission:

The Grand Budapest Hotel Available Soon on Digital HD
In two weeks, spend an evening in unparalleled luxury. Pre Order now on Digital HD  

zubrowkafilmcommission:

The Grand Budapest Hotel Available Soon on Digital HD

In two weeks, spend an evening in unparalleled luxury. Pre Order now on Digital HD  

90 Notes

34 Notes

Into The Wild Review

I just made a review about Into the Wild film. I’m so productive today it made me feel proud of mysef. So happy. Here’s the review below, and it’s in Indonesian. I hope you can enjoy reading it. :)

Into The Wild

“…How important it is in life not necessarily to be strong, but to feel strong.”

Masa depan Christopher McCandless (Emilie Hirsch) kelihatan terbentang cerah: ia baru saja lulus dari sebuah universitas dengan nilai yang memuaskan. Nilainya sanggup untuk membawanya melanjutkan kuliahnya ke Harvard University, dan tabungan yang mencukupi dan orang tua yang mendukung semakin membuat impian itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun, benarkah itu semua definisi “masa depan cerah” yang diimpikan Chris?

Chris menolak untuk dikekang, menolak untuk memenuhi segala tuntutan duniawi untuk melanjutkan edukasi, bekerja, atau pun menikah. Chris memutuskan untuk melepaskan segalanya yang ia punya dan pergi berpetualang. Ia memilih untuk bersatu kembali dengan alam, menemukan pengalaman-pengalaman dan tantangan-tantangan baru di belantara alam. Seiring dengan berjalannya film, karakter Chris mempesona saya, sekaligus membuat saya iri. Terkadang kita ingin terlepas dari kekangan yang menyesakkan hidup kita. Terlepas dari segala tuntutan hidup: dari orangtua, pemerintah, society. Dari segala tetek bengek sistem yang mengatur hidup kita, dan mencicipi setetes rasa kebebasan. Chris membuat saya iri karena ia berani untuk mengambil langkah ekstrim untuk meninggalkan segalanya demi merasakan setetes kebebasan tersebut.

Film yang diadaptasi dari cerita nyata ini tidak menyajikan cerita yang muluk-muluk, yang menampilkan banyak konflik dan menjanjikan ending happily ever after seperti pada film-film umumnya. Film ini begitu apa adanya, jujur, hingga awalnya membuat hati saya remuk sehabis menontonnya. Saya teringat akan orang-orang di sepanjang perjalanan yang Chris temui, orang-orang yang mendapatkan warna baru saat Chris mengunjungi hidup mereka. Saya teringat akan orang tua dan adik perempuan Chris, yang ia tinggalkan tanpa memberikan kabar apa-apa, yang seakan-akan napas hidup mereka direnggut saat Chris pergi. Saya merasakan kesedihan yang mereka rasakan. Ikut merasa pedih seakan-akan Chris juga turut meninggalkan saya. Namun selain itu, saya merasakan harapan, harapan akan tujuan yang ingin diraih Chris, juga harapan akan kemana ia akhirnya akan berlabuh. Apakah ia akan berhasil? Apakah ia akan menetap di suatu tempat, atau kembali ke rumahnya dulu, bersama orangtua dan saudaranya?

Kepedihan, harapan, harapan yang redup. Itulah yang saya rasakan selama dan setelah menonton film ini. Saya menyukai segala petualangan yang dilakukan Chris, ikut menikmati keindahan alam yang ia jelajah. Saya mengagumi hobinya untuk membaca dan menulis, yang bahkan ia lakukan saat ia bertualang di belantara. Saya menyukai setiap kutipan yang ia ambil dari buku-buku favoritnya. Saya juga turut merasakan “warna” yang Chris toreh pada orang-orang yang ia temui. Namun, perasaan akan harapan yang redup sehabis menonton film ini membuat saya tak nyaman, hingga mungkin membuat saya sungkan untuk menonton kembali film ini.

Into the Wild meninggalkan banyak hal untuk direnungkan: benarkah kebebasan murni itu ada? Manusia menghabiskan hidupnya di bumi terikat dengan segala hal: keluarga, perkawinan, kontrak, pekerjaan, harta. Benarkah dengan melepaskan segalanya kita dapat mencicipi seberkas rasa damai yang didapat dari kebebasan itu? Apakah bebas itu? Walau menimbulkan banyak pertanyaan, Into the Wild menyuguhkan sebuah jawaban, yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaan itu. Jawaban yang juga menyadarkan suatu hal yang sangat penting, bahwa “happiness is only real when shared.”

Into The Wild (2007)

Directed by Sean Penn

Duration: 148 min

216596 Notes